Laman

Kamis, 03 Februari 2011

Kesabaran, Kemurahan Hati, dan Kerelaan Memaafkan


Kesabaran, Kemurahan Hati, dan Kerelaan Memaafkan

Kehidupan kita senantiasa diwarnai oleh riak-riak. Seringkali dalam perjalanan hidup, kita mengalami konflik dengan orang lain, saudara kita meupun sahabat-sahabat kita. Masalah yang memicu konflik bias aja suatu hal kecil, perbedaan kepentingan maupun perbedaan cara berpikir. Konflik yang ada awalnya mungkin hanya menimbulkan kejengkelan, kesesalan dalam hati. Akan tetapi, setelahnya, ego dalam diri mulai bekerja, mencari-cari pembenaran bagi diri sendiri, mencari-cari kesalahan dari orang yang kita tidak sukai tersebut. Lama-lama yang kita pikirkan tentang orang tersebut hanyalah kejelekan-kejelekannya. Kita semakin terbutakan oleh ego dan kebencian kita, kita terus memendamnya dalam hati kita, dalam ingatan kita.


Ada kata-kata bijak Tiongkok kuno yang menyatakan “Kerelaan Memaafkan Adalah Kemulian Hati Terbesar.” Anda mungkin berpikir bahwa orang tersebut dapat berkata demikian lantaran dia tidak sedang diliputi kejengkelan dan kebencian, ketika dia sendiri yang mengalami konflik dan ketidaksukaan, mungkin dia juga tidak akan bisa rela memaafkan. Ada benarnya, memang.


Tapi pernahakah kita merenungkan bahwa pemendaman rasa marah, jengkel maupun benci hanya merusak batin kita sendiri ? juga merusak kesehatan kita. Pernakah kita merenungkan betapa langkanya kesempatan untuk memaafkan itu ? Pernahakah terlintas dalam pikiran kita kalau orang yang kita benci atau jengkel itu juga sebenarnya punya kesulitan-kesulitan tersendiri ? Pernakah kita belajar untuk mencoba memahaminya?

Rasa marah, jengkel, benci…


Sadari…, perlahan..


Mungkin.., suatu masa.. , Anda akan menyadari bodohnya sikap anda yang tercengkeram oleh perasaan tidak suka tersebut.


Mungkin…, bahkan ketika anda tersadar dan ingin sekali memaafkan orang-orang tersebut, semuanya sudah terlambat.


Mungkinkah ini terjadi? Saya ingin mengajak anda dalam serpihan kisah berikut.


Hsiau-fei adalah seorang mahasiswa yang sebentar lagi akan diwisuda. Dia sangat mendambakan akan mendapatkan hadiah wisuda dari ayahnya, seorang pengusaha kaya yang sangat menyayanginya sebagai anak satu-satunya. Hsiau-fei selama berhari-hato telah membayangkan akan mengendari mobil BMW idamannya sambil bersenang-senang dengan temannya.


Saat yang dinantikan pun tibalah, yan gmana setelah diwisuda, dengan langkah penuh keyakinan Hsiau-fei melangkah menemui ayahnya yang tersenyum sambil berlinang air mata menyampaikan betapa dia sangat kagum akan anak satu-satunya dan snguh dia mencintainya. Ayahnya kemudian mengeluarkan seuah kado yang dibungkus rapi, dan sungguh hal ini membuat Hsiau-fei terpaku karena bukanlah kunci mobil BMW sebagaimana yang diharapkannya. Dengan perasaan gundah dibukanya juga kado itu di mana berisi kita Buddha Vacana yang terjilid rapi berlapiskan tulisan emas nama Hsiau-fei di sampul depannya. Hancur sekali hati Hsiau-fei menerima hadiah kitab tersebut, dan dengan marah tanpa dapat terkendalikan, dia membanting kitab tersebut sambil berteriak nyaring, “Apakah ini cara Ayah mencintai saya?! Padahal dengan uang Ayah yang banyak, tidaklah sulit untuk membelikan hadiah yang memang telah Ayah ketahui sudah lama saya idamkan!!!” Kemudian Hsiau-fei tanpa melihat reaksi ayahnya lagi, berlari kencang meninggalkannya dan bersumpah tidak akan menemuinya lagi.

Hari, bulan, dan tahun pun berganti. Hsiau-fei yang telah pindah tinggal di kota lain akhirnya berhasil menjadi seorang pengusaha yang sukses karena bermodalkan otaknya yang cemerlang. Selain memiliki mobil dan rumah yang mewah, dia juga telah berkeluarga dan memiliki tiga anak. Sementara, ayahnya sudah pension dan semakin tua serta tinggal sendirian. Ayahnya selalu menanti kedatangan Hsiau-fei. Hsiau-fei ada kalanya juga rindu kepada ayahnya, namun setiap kali mengingat kejadian hari wisuda tersebut, dia pun menjadi marah kembali dan merasa sakit hati atas hadiah kitab dari ayahnya.


Sampai suatu hati, datanglah telegram dari tetangga ayahnya yang memberitahukan bahwa ayahnya telah meninggal dunia, dan sebelum meninggal dia telah meninggalkan surat wasiat kepada Hsiau-fei di mana semua hartanya akan diwariskan kepadanya. Akhirnya Hsiau-fei pulang untuk mengurus harta peninggalan ayahnya.

Memasuki halaman rumahnya, timbullah rasa penyesalan yang menyebabkannya sedih sekali memikirkan sikap ketidaksabarannya, khususnya saat wisuda. Hsiau-fei merasa sangat menyesal telah menolak ayahnya. Dengan langkah berat dia memasuki rumah dan satu per satu perabot diperhatikannya bersama ayahnya. Dengan kunci wasiat yang diterimanya, dia membuka brankas besi ayahnya dan menemukan kita Buddha Vacana dengan ukiran emas namanya, hadiah hari wisuda.


Dia muali membuka halaman kitab tersebut dan menemukan tulisan ayahnya di halaman depan, “Dengan segala kejahatan yang telah kamu lakukan selama hidupmu, tetapi kamu tahu memberikan yang terbaik untuk anakmu, sungguh para Buddha dan Bodhisattwa akan terguncang dengan perbuatanmu.: Tanpa disengaja, tiba-tiba dari sampul kitab tersebut jatuh sebuah kunci mobil BMW dan kwitansi pembelian mobil yang tanggalnya persis satu bulan sebelum hari wisuda Hsiau-fei.


Hsiau-fei terpaku tanpa bisa bersuara, berbagai perasaan menghinggapinya. Dengan sisa tenaga yang ada, Hsiau-fei segera berlari ke garasi dan menemukan sebuah mobil BMW yang telah berlapiskan debu tetapi masih jelas bahwa mobil tersebut terbungkus plastik. Di depan kemudi terpampang foto ayahnya yang tersenyum bangga. Tiba-tiba lemaslah seluruh tubuhnya, dan air matanya tanpa terasa mengalir terus tanpa dapat ditahannya.. suatu penyesalan mendalam atas ketidaksabarannya sendiri.. suatu penyesalan yang tak mungkin berakhir.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar