Laman

Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Agustus 2013

Anak yang bangga terhadap Orang Tua

A Poor Farmer Supported His Son To Finish His College.
On the Graduation Day, He Said His Father Is His Biggest Pride. 


Hal yang luar biasa adalah si anak tidak malu memberitahukan ke dunia bahwa orang tuanya ada kekurangan.
anak zaman skrg ada yang malu kalau orang tuanya miskin, cacat atau ada kekurangan tertentu.

Ibu dan Ayah adalah Orang-orang yang memberikan banyak kebajikan sejak awal (Pubbakari).
Mereka memberi pertolongan (Upakara) lebih dahulu kepada anaknya dengan cara menjaga sejak didalam kandungan hingga dewasa.
Dengan penuh kesabaran didalam kandungan hingga dewasa.
Dengan penuh kesabaran tanpa mengenal lelah,
Beliau berusaha melatih berbicara,berjalan,mengenali lingkungan dan menimba pengetahuan yang kelak dapat menjadi bekal dalam kehidupan ini.
Kebajikan-kebajikan itulah yang membuat seorang Ibu,Ayah dan sanak keluarga patut untuk dipuja..
Semoga semua Ibu dan Ayah disepuluh penjuru senantiasa Sehat dan Bahagia

Kamis, 31 Januari 2013

Pendidikan Moral Untuk Anak

Menjadi ayah dan ibu, adalah hal yang mudah. Namun menjadi figur orang tua, ternyata bukanlah hal yang mudah.

Banyak orang yang bisa melahirkan anak, namun mengalami kesulitan dalam mendidik anak-anaknya.
Seringkali kita dengar, orangtua yang mengeluh bahwa anaknya sulit untuk diatur, sulit untuk diajari hal2 yang baik.

Namun sebenarnya, sebagai orangtua, kita perlu merenungi sikap dan perilaku kita sendiri terlebih dahulu. Karena anak ternyata lebih mudah belajar dengan meniru dari apa yang dilakukan oleh orangtuanya.

Contohnya, jika orangtua merokok, lalu menasehati anaknya agar kelak tidak merokok.

Bagaimana mungkin bisa mengajarkan anak agar berbakti pada orangtua, jika saat ini anak sering kali melihat ayah ibunya menentang kakek dan neneknya?

Nasehat yang diberikan justru bertentangan dengan apa yang dilihat, didengar dan dialami oleh anak tsb, maka nasehat yang disampaikan menjadi tidak efektif.

Karena itu memberikan teladan, contoh yang baik dalam ucapan dan perbuatan bahkan pikiran, adalah suatu hal yang amat penting dalam mendidik anak.

Orangtua menyekolahkan anak2nya di sekolah yang baik. Memberikan bekal ilmu dan pendidikan. Namun keliru, jika orangtua menganggap bahwa tugas mendidik anak, adalah tugas dan kewajiban para guru saja.
Memang peranan guru penting, namun peranan orangtua jauh lebih penting. Orangtua adalah ‘guru’ yang pertama bagi sang anak. Dimana pada usia awal anak, adalah tahap penting bagi pembentukan karakter si anak.

Di rumah, anak justru bisa mendapat perhatian dan pengarahan yang lebih dari orangtuanya ( ketimbang guru yang harus memperhatikan sekian banyak anak2 di kelas ), maka arahan dan teladan orangtua menjadi sangat penting bagi perkembangan sang anak tadi.

Dalam Dhamma dijelaskan ada 3 jenis anak, yaitu :

1. Anak yang lebih baik dari orangtuanya.
Misalnya : orangtuanya sukses, si anak bisa lebih sukses.
Orangtuanya punya rumah satu, si anak mampu punya rumah lebih dari satu.

2. Anak yang biasa, sama dengan orangtuanya.
Orangtuanya punya rumah satu, si anak juga punya rumah satu.

3. Anak yang lebih buruk dari orangtuanya.
Orangtuanya punya rumah satu, si anak tinggal di rumah sewa.
Dan semua orangtua tentunya berharap kelak anaknya menjadi lebih hebat dan lebih sukses daripada dirinya. Berharap agar anaknya menjadi jenis yang pertama seperti yang dikatakan di dalam Dhamma.
Lantas bagaimana caranya orangtua agar dapat mempersiapkan anaknya untuk menjadi manusia2 yang lebih baik, lebih sukses dan bahagia kelak?

Ada 2 hal untuk mencapai sukses :
Pertama adalah kemauan untuk terus belajar dan berusaha.
Kedua adalah kebajikan atau perbuatan baik.
Harus ada kedua hal ini, baru seseorang bisa sukses.
Jika seseorang hanya bekerja keras, tapi tidak berbuat baik, maka tidak ada timbunan buah kamma baiknya, sehingga ia sulit untuk sukses.

Atau jika seseorang hanya berdoa dan berbuat baik, tetapi tidak mau berusaha atau bekerja, lalu bagaimana juga dia bisa sukses?

Hal ini berlaku juga dalam menyokong anak kita agar kelak menjadi sukses dan bahagia.

Memberikan pendidikan yang baik di sekolah, mendukung dan memberikan pelajaran2 tambahan sesuai dengan minat, hobi ataupun bakat sang anak. Ini berarti orangtua telah memberikan bekal untuk anak agar mampu berusaha dan bekerja nantinya dalam masyarakat.

Hal kedua yang perlu dilakukan adalah orangtua sering mengkondisikan anak untuk berbuat baik. Misalnya, rutin mengajak anak pergi bersama untuk melakukan fangshen. Biarkan si anak juga ikut melakukannya, seperti melepas burung.

Diharap sang anak akan terbiasa melakukan perbuatan baik dan senang melakukan perbuatan baik.
Sehingga anak ini akan memiliki timbunan kamma baik yang bisa mendukung kesuksesan dan kebahagiaannya kelak.

"Accurate" Health Center Medan adalah pusat pengobatan holistik yang terdiri dari terapi psikologi, hipnoterapi, konseling psikologi akan membantu anda mengobati penyakit depresi pada diri anda. Di samping itu, pengobatan di "Accurate" Health Center memiliki pengobatan alternatif, seperti akupunktur, terapi pijat, fisioterapi, refleksi kaki, ramuan tradisional untuk membantu anda melengkapi proses penyembuhan yaitu dengan memperbaiki sistem syaraf dan melancarkan aliran darah. 

"Accurate" Health Center Medan merupakan pengobatan tanpa efek samping, efektif, alamiah dan  cepat khasiatnya.

Hubungi "Accurate" Health Center untuk penangananya.

"Accurate" Health Center Medan
Jl. Tilak No. 76 (Simpang Demak)
Telp. (061) 7322480
Medan

Website : Http://www.accuratehealth.blogspot.com

Kamis, 26 Juli 2012

Noda Hitam di Atas Kertas Putih

Di sebuah desa, tinggallah sebuah keluarga bersama anak tunggal mereka. Karena dimanjakan sebagai anak semata wayang, si anak menjadi suka bersikap ‘semau gue'. Anak ini sangat pandai mencari-cari dan menunjukkan kesalahan orang lain, entah kepada kawan bahkan kepada orangtuanya sendiri. Bahkan, ia suka mempermalukan orang yang berbuat salah walaupun tanpa sengaja.
 
Suatu hari, karena kurang hati-hati, anak tersebut terjatuh! Segera dia berteriak ke ayahnya, "Aduh, Ayah sih meletakkan ember di sembarang tempat. Aku jadi terjatuh.. Sakit, nih!"

Ayahnya menolong sambil berkata, "Bukan salah ayah atau embernya. Ember itu setiap hari berada di tempatnya, tetapi kamu yang tidak berhati-hati berjalan sehingga terpeleset dan jatuh. Kalau jalan, ya hati-hati dong."

Sambil bersungut-sungut, si anak pergi begitu saja.

Pada waktu lain, si anak berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. "Wah, madu lebah itu pasti enak dan menyehatkan badan. Aku akan usir lebah-lebah itu dan mengambil madunya," pikirnya. Kemudian, ia mengambil sebatang ranting bambu dan mulai menyodok sarang lebah dengan keras.

Ratusan lebah yang merasa terusik, berbalik menyerang si anak. Melihat binatang kecil yang begitu banyak beterbangan ke arahnya, segera dia berlari terbirit-birit. Lebah-lebah yang marah pun mengejar dan mulai menyengat!

"Aduh..., tolong....tolong...!!" teriaknya panik.

Ketika tiba di tepi sungai, anak itu segera menceburkan diri ke sana. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan buruannya yang basah dan kesakitan.

Di kejauhan, terlihat sang ayah bergegas berlari mendatangi anaknya. Begitu sampai di tepi sungai, ia segera mengulurkan tangan untuk menolong buah hatinya. Namun, si anak dengan muka kesal dan nada marah berkata keras ke ayahnya,

"Mengapa Ayah tidak segera menolongku? Lihat nih, bajuku basah kuyup kedinginan. Terus, badanku sakit terkena sengatan lebah! Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku sehingga aku tidak perlu mengalami hal seperti ini. Semua ini salah Ayah!" Kemudian, dengan kasar, ia menampik tangan ayahnya yang terulur. Sang ayah terdiam terkejut dan menghela napas. Lalu, mereka pun pulang ke rumah bersama sambil berdiam diri.

Malam harinya, menjelang tidur, sang ayah menghampiri anaknya sambil membawa selembar kertas putih, "Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?"

Setelah memperhatikan sejenak si anak menjawab, "Ini hanya kertas putih biasa, tidak ada gambarnya. Kenapa ayah menanyakannya?"

Tanpa menjawab, sang ayah menggunakan sebuah pulpen tinta dan membuat sebuah titik hitam di kertas putih itu.

"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?"

"Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!" Si anak langsung menjawab.

"Anakku, mengapa engkau hanya melihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Ketahuilah anakku, kertas ini sama seperti cara pandang kamu: betapa mudahnya kamu melihat kesalahan ayah maupun kesalahan orang lain, padahal masih begitu banyak hal-hal baik yang telah ayah lakukan kepadamu."

Ilustrasi cerita di atas sungguh mengandung kebijakan, seperti pepatah yang mengatakan "Gajah di pelupuk mata tidak tampak, semut di seberang lautan kelihatan."

Bagi saya, seandainya kita bisa melihat setiap masalah yang timbul dari sudut kelemahan kita dahulu, bukan dari kesalahan orang lain, maka akan muncul sikap positif. Nah, sikap positif ini akan memudahkan kita memecahkan setiap problem yang muncul, sekaligus akan mengembangkan kekayaan mental kita untuk menuju kehidupan sukses yang lebih bernilai. Setuju kan?

Senin, 02 Juli 2012

Kisah anak kasih yang luar biasa

Ini sungguh sebuah foto yang sangat memilukan hati.

Seorang Ayah dan Ibu mencium dan mengatakan selamat tinggal kepada anak perempuannya yang baru berumur 2 tahun bernama Xiwang atau "Harapan" yang telah meninggal karena hypoxic-ischemic cerebral palsy.

Kedua orang tua dari anak kecil yang tidak berkesempatan untuk melanjutkan hidup itu memutuskan untuk memberikan arti kepada kematian anaknya dengan menyumbangkan organ tubuh anaknya.

Jikalau Anda bertanya-tanya mengapa para tenaga medis disana membungkuk, itu adalah karena kurang dari 1 jam, ada dua anak kecil di ruangan lain yg mendapat berkah dan bisa melanjutkan hidupnya dikarenakan ginjal dan hati anak perempuan bernama Xiwang tersebut.

Sungguh Semangat Kasih yang sangat luar biasa..
 

Semoga anak tersebut terlahir di alam berbahagia..

Kamis, 28 Juni 2012

Foto Renungan (Bocah Tanpa Lengan)

"Walaupun saya tidak mempunyai tangan, namun saya tidak menyerah dalam menghadapi hidup ini. Sudah sangat banyak derita yang saya hadapi, tidak mempunyai tangan, hidup dalam kemiskinan dan saya harus bekerja membantu orang tua saya. Saya menyadari bahwa dibalik penderitaan, ada kebahagiaan, ada kehangatan dari orang-orang sekitar yang mencintai saya. Satu hal yang saya pelajari dari hidup saya ini adalah 'Kalau saya tidak pernah mengalami derita ini, darimana saya bisa tahu apa itu kebahagiaan?' Semua yang terjadi adalah karena akibat karma saya, masa lalu saya. Namun, saya tidak putus asa. Hidup ini indah karena saya dicintai."


Foto Renungan ( Tidak ada Harimau Makan Anaknya)


Senin, 23 April 2012

Anak 6 Tahun Jualan Limun Demi Selamatkan Ayahnya

Suatu kali Drew Cox, 6 tahun, menggelar meja di depan halaman rumahnya yang berumput dan tak berpagar di Gladewater, Texas, Amerika Serikat. Di situlah ia berjualan limun dalam gelas di atas meja dengan selembar karton bertulisan "Please Help My Dad". Ia menjual limun 25 cent segelasnya. 
 
Semula tetangganya tak begitu memperhatikannya. Namun setelah ada tetangganya yang menghampirinya dan membaca karton itu, si tetangga kontan tersentuh hatinya. Drew, anak pasangan Randy Cox dan Tonya Cooley Cox, berjualan limun dan makanan kecil untuk mengumpulkan uang yang akan diberikan pada orangtuanya untuk menebus obat-obatan bagi sang ayah, Randy Cox, 30 tahun.

Randy memang didiagnosa terkena penyakit seminoma, sejenis kanker yang langka. Untuk penyembuhannya ia harus menjalani terapi dengan biaya yang lumayan besar. Randy harus menjalani empat siklus terapi. Seminggu pertama ia harus datang ke tempat pengobatannya dan menjalani terapi selama enam jam setiap hari selama seminggu. Setelah itu berhenti selama dua minggu. Kemudian terapi lagi seminggu dan berhenti dua minggu. Dan seterusnya.

"Saya sedih. Saya ingin ayah bisa kembali sehat," kata Drew memberi alasan kenapa berjualan limun seperti dikutip KLTV, Texas. "Saya melakukan ini (berjualan) karena ingin menolongnya dengan mengumpulkan uang untuk menebus obat," katanya lagi.

Randy mengaku sedih melihat apa yang dilakukan anak pertama dari tiga anaknya itu. "Itu ungkapan kasih sayangnya pada saya," katanya.

Lalu kabar pun tersebar. Para tetangganya datang ke halaman rumah Randy untuk membeli limun Drew. Bahkan orang-orang di kawasan yang berada di luar kompleks rumahnya pun berdatangan. Dalam sehari itu jalanan di depan rumah Randy penuh oleh mobil-mobil yang diparkir. Sejumlah orang, baik anak-anak maupun orang dewasa ramai-ramai membantu Drew untuk melayani pembeli lain. Dan tentu saja mereka membayar tak seharga seperti yang ditawarkan Drew, 25 cent segelas. Hari itu Drew bisa mengumpulkan pendapatan sampai US$10.000.

Tak hanya itu, orangtua teman sekolah Drew ada juga yang menggagas penggalangan dana lewat Facebook. Dan dalam waktu yang tak terlalu lama sudah terkumpul US$3.500. "Kita tahu bahwa cinta bisa datang dari seorang anak kecil. Sangat mengagumkan," kata seorang penyumbang

Kamis, 22 Maret 2012

Bocah Atasi Perampok dengan Celengan

Bermaksud untuk melakukan perampokan, seorang pencuri harus puas pulang dengan tangan hampa saat dua orang bocah justru menawarkan tabungan mereka yang disimpan dalam sebuah celengan.

Perampok itu menekan bel sebuah rumah di Schwanewede, Bremen, Jerman dan langsung memaksa untuk masuk ke dalam rumah. Bersenjatakan pistol wajah yang menggunakan topeng, perampok itu pun membuat pengasuh anak yang berada di rumah itu merasa takut.

Pengasuh itu makin takut saat kedua bocah yang tengah ia jaga turun dan melihat perampok yang tengah menodongkan senjata.

Tetapi kejadian berikutnya justru berlangsung aneh. Saat kedua bocah itu memberikan tabungan yang mereka simpan dalam sebuah celengan babi, perampok itu merasa malu dan langsung meninggalkan rumah itu.

"Bocah-bocah itu melihat kejadian di lantai bawah dan langsung turun membawa tabungan mereka," ucap juru bicara kepolisian seperti dikutip Orange.

"Perampok itu mungkin saja sadar apa yang dilakukannya memang perbuatan yang memalukan dan menurunkan senjatanya kemudian langsung pergi," imbuhnya.

Polisi pun tidak mengeluarkan usia dari kedua bocah tersebut untuk kepentingan perlindungan. Sementara polis pun tidak bisa memproses perampok karena sudah kabur dari lokasi kejadian.

Sabtu, 12 Februari 2011

Pohon Apel yang Mengorbankan Segalanya


Pohon Apel yang Mengorbankan Segalanya.

Suatu ketika, hiduplah sebatang pohon apel besar dan anak lelaki yang senang bermain-main di bawah pohon apel itu setiap hari. Ia senang memanjatnya hingga ke puncak pohon, memakan buahnya, tidur-tiduran di keteduhan rindang daun-daunnya. Anak lelaki itu sangat mencintai pohon apel itu. Demikian pula, pohon apel sangat mencintai anak kecil itu. Waktu terus berlalu. Anak lelaki itu kini telah tumbuh besar dan tidak lagi bermain-main dengan pohon apel itu setiap harinya.

Suatu hari ia mendatangi pohon apel. Wajahnya tampak sedih. "Ayo ke sini bermain-main lagi denganku," pinta pohon apel itu. "Aku bukan anak kecil yang bermain-main dengan pohon lagi," jawab anak lelaki itu. "Aku ingin sekali memiliki mainan, tapi aku tidak punya uang untuk membelinya". Pohon apel itu menyahut, "Duh, maaf aku pun tak punya uang..., tapi kau boleh mengambil semua buah apelku dan menjualnya. kau bisa mendapatkan uang untuk membeli mainan kegemaranmu." Anak lelaki itu sangat senang. Ia lalu memetik semua buah apel yang ada di pohon dan pergi dengan sukacita. Namun, setelah itu anak lelaki tersebut tidak pernah datang lagi. Pohon apel itu kembali sedih.

Suatu hari anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel sangat senang melihatnya datang. "Ayo bermain-main denganku lagi." kata pohon apel. "Aku tak punya waktu," jawab anak lelaki itu. "Aku harus bekerja untuk keluargaku. Kami membutuhkan rumah untuk tempat tinggal. Maukah kau menolongku?" "Duh, maaf aku tidak punya rumah. Tapi kau boleh menebang semua dahan rantingku untuk membangun rumahmu", kata pohon apel. Kemudian, anak lelaki itu menebang semua dahan dan ranting pohon apel itu dan pergi dengan gembira. Pohon apel itu juga merasa bahagia melihat anak lelaki itu senang, tapi anak lelaki itu tidak pernah kembali lagi. Pohon apel itu merasa kesepian dan sedih.

Pada suatu musim panas, anak lelaki itu datang lagi. Pohon apel merasa sangat bersukacita menyambutnya. 'Ayo bermain-main lagi denganku." kata pohon apel. 'Aku sedih," kata anak lelaki itu. "Aku sudah tua dan ingin hidup tenang." Aku ingin berlibur dan berlayar. Maukah kau memberiku sebuah kapal berlibur dan berlayar. Maukah kau memberiku sebuah kapal untuk pesiar?" Duh, maaf aku tak punya kapal, tapi kau boleh memotong batang tubuhku dan menggunakannya untuk membuat kapal yang kau mau. Pergilah berlayar dan bersenang-senanglah." Kemudian, anak lelaki itu memotong batang pohon apel itu dan membuat kapal yang diidamkannya. Ia lalu berlayar dan ttak pernah lagi datang menemui pohon apel itu.

Akhirnya, anak lelaki itu datang lagi setelah bertahun-tahun kemudian. "Maaf, anakku," kata pohon apel itu. 'Aku sudah tidak punya buah apel lagi untukmu." Tak apa. Aku pun sudah tak punya gigi untuk menggigit buah apelmu," jawab anak lelaki itu. 'Aku juga tak pynya batang dan dahan yang bisa kau panjat," ujar pohon apel. "Sekarang, aku sudah terlalu tua untuk itu," jawab lelaki itu. 'Aku benar-benar tak punya apa=apa lagi yang bisa kuberikan padamu. Yang tersisa hanyalah akar-akarku yang sudah tua dan sekarat ini," kata pohon apel sambil menitikkan air mata. 'Aku tidak memerlukan apa-apa lagi sekarang," kata anak lelaki, "aku hanya membutuhkan tempat untuk beristirahat. Aku sangat lelah setelah sekian lama meninggalkanmu." "Ooh, bagus sekali. Tahukah kau, akar-akar pohon tua adalah tempat terbaik untuk berbaring dan beristirahat. Mari, marilah berbaring di pelukan akar-akarku dan beristirahat dengan tenang." Anak lelaki itu berbaring di pelukan akar-akar pohon. Pohon apel itu sangat gembira dan tersenyum sambil meneteskan air matanya.

Inilah untuk kita semua. Pohon apel itu adalah orang tua kita. Ketika kita masih muda, kita senang bermain-main dengan ayah dan ibu kita. Ketika kita tumbuh besar, kita meninggalkan mereka, dan hanya datang ketika kita memerlukan sesuatu atau dalam kesulitan. Tak peduli apa pun, orang tua kita akan selalu ada di sana untuk memberikan apa yang bisa mereka berikan untuk membuat kita bahagia. Anda mungkin berpikir bahwa anak lelaki itu telah bertindak sangat kasar pada pohon itu, tetapi begitulah cara kita memperlakukan orangtua kita. Dan yang terpenting : cintailah orangtua kita. Berilah perhatian dan kasih sayang anda pada orang tua. Cinta yang sejati tidak terletak pada apa yang telah dikerjakan dan diketahui, namun pada apa yang telah dikerjakan tapi tidak diketahui. Sampaikan pada orang tua kita sekarang, betapa kita mencintai mereka, dan berterima kasih atas seluruh hidup yang telah dan akan mereka berikan kepada kita. Berbagilah, selama waktu masih ada. Semoga kita, orangtua kita dan sahabat-sahabat kita, bahagia.