Laman

Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Uang. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Maret 2012

Kebaikan Melindungi Sang Pelaku (Kisah Sang Maestro Matsushita)

Di tahun 1929, pernah terjadi 'depresi ekonomi global'. Wall Street menukik tajam tak terkendali. Surat saham tak lebih nilainya seperti kertas biasa.

Saat itu, General Motor terpaksa mem-PHK separo dari 92.829 karyawannya. Perusahaan besar maupun kecil bangkrut.

Jutaan orang menjadi pengangguran. Jutaan orang kelaparan. Daya beli turun bersama harga dan lowongan pekerjaan.

Malam menjadi gelap gulita. Kepanikan terjadi di mana-mana. Toko yang masih bertahan, menghentikan pembelian dari pabrik karena gudang sudah penuh dengan barang yang tidak terjual.

Saat itu, Konosuke Matsushita yang memproduksi peralatan listrik bermerek National dan Panasonic baru saja merampungkan pabrik dan kantor dengan pinjaman dari Bank Sumitomo.

Kondisi badannya sering sakit-sakitan akibat gizi yang kurang di masa kanak-kanak, ditambah lagi dengan kerja 18 jam sehari, 7 hari seminggu selama 12 tahun merintis usahanya. Hanya semangat hiduplah yang membuatnya masih bernapas.

Dengan punggung bersandar ke tembok rumah, Matsushita mendengarkan laporan tentang kondisi perekonomian yang terus memburuk ketika manajemennya datang menjenguk. Lalu bagaimana tanggapannya ?

"Kurangi produksi separonya, tetapi JANGAN mem-PHK karyawan. Kita akan mengurangi produksi bukan dengan merumahkan pekerja, tetapi dengan meminta mereka untuk bekerja di pabrik hanya setengah hari.

Kita akan terus membayar upah seperti yang mereka terima sekarang, tetapi kita akan menghapus semua hari libur. Kita akan meminta semua pekerja untuk bekerja sebaik mungkin dan berusaha menjual semua barang yang ada di gudang."

Perintah ini bagi anak buahnya sama anehnya dengan depresi ekonomi itu sendiri. Koq bisa terjadi, yah ?

Dalam situasi begitu, sangatlah masuk akal jika perusahaan mem-PHK karyawan demi efisiensi. Namun Matsushita karena keyakinannya pada sang kebajikan sudah mantap, demi kelangsungan hidup anak-istri karyawannya, akhirnya mampu menghasilkan terobosan yang manusiawi pada masa depresi ekonomi tersebut.

Kebajikan Matsushita terhadap karyawannya mendapatkan hasil yang manis 16 tahun kemudian dari karyawan yang pernah ditolongnya. Ia menuai buah kebajikannya sendiri.

Ketika Perang Dunia II berakhir, Jenderal Douglas McArthur yang mengendalikan Jepang, menangkapi semua pengusaha Jepang untuk diadili karena keterlibatan mereka selama perang.

Pada kurun 1930-an, para pengusaha Jepang, termasuk Matsushita, mendapat tekanan rezim militer Jepang saat itu untuk memproduksi senjata dan logistik militer lainnya. Maka Matsushita pun ikut ditangkap.

Sekitar 15.000 pekerja bersama keluarganya membubuhkan tanda tangan petisi pembelaan untuk Matsushita !!! Jenderal McArthur pun tercengang oleh petisi tersebut dan akhirnya membebaskan Matsushita.

Tidak ada pemilik usaha dan pimpinan industri sebelum perang dunia kedua yang diizinkan McArthur kembali ke pekerjaannya kecuali Matsushita.

Demikianlah Matsushita dapat terus memimpin perusahaannya sampai menjadi raksasa elektronik dunia, dan baru pensiun pada tahun 1989 pada usia 94 tahun.

Ketika Matsushita meninggal tahun 1990, bukan cuma para pebisnis yang berduka cita. Presiden Amerika saat itu, George Bush (Senior), pun turut berduka.

Matsushita berhasil membangun dirinya melewati ambang batas pengusaha yang umumnya selalu lapar duit dan haus fulus serta menjadi pribadi yang humanis dan filsuf yang sangat peduli terhadap kemanusiaan.

Bagi Matsushita, uang bukanlah tujuan. Meskipun butuh uang tetapi uang bukanlah segala-galanya. Baginya, uang adalah sarana untuk melakukan kebajikan.

Itu sebabnya, beliau tidak pernah menggigit orang, main curang, atau merebut jatah orang lain. Matsushita yakin bahwa kalau kita tidak jahat dan terus berbuat baik maka kejahatan akan menjauhi kita dan kebaikan akan melindungi kita

Rabu, 14 Maret 2012

FILOSOFI UANG

1. Uang tak pernah cukup memenuhi kebutuhan, maka harus dikejar terus

Anggapan ini salah karena pada dasarnya kita tidak pernah kekurangan uang jika kita mampu memanfaatkan dan mengelolanya dengan baik. Untuk mengelola uang agar mencukupi kebutuhan kita, kita perlu memiliki perencanaan bagaimana mencari dan menggunakan uang. Salah satu cara yang paling sederhana adalah menentukan lebih dulu berapa uang yang Anda perlukan untuk memenuhi kebutuhan primer, sekunder, dan tersier.

Setelah mengetahui seberapa besar kebutuhan kita, yang perlu kita lakukan tinggal mencari penghasilan. Di sini yang perlu kita pastikan bukan mencari penghasilan sebesar-besarnya, melainkan bagaimana kita memiliki kemampuan menghasilkan uang secara langgeng dan mampu memenuhi kebutuhan hidup kita.

2. Uang dapat memenuhi semua keinginan

Anggapan ini juga keliru. Tidak semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Hal-hal seperti pertemanan tidak bisa didapatkan dengan uang. Kalaupun ada yang bisa memperoleh seorang teman, misalnya, karena faktor uang, hal itu hanya bersifat sementara dan artifisial.

Karena itu, uang bukanlah satu-satunya cara mencapai tujuan hidup kita. Dan jika kita belum mampu mendapat uang dalam jumlah tertentu, bukan berarti itu adalah akhir dari segalanya. Seberapa pun uang Anda, sebenarnya tetap cukup, sepanjang kita mau melakukan penyesuaian.

3. Untuk menjadi kaya harus berpendidikan tinggi

Mitos ini tidak seratus persen salah atau benar. Karena pada kenyataannya, ada juga beberapa orang yang tidak berpendidikan tinggi tapi bisa memiliki kekayaan yang besar. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang berlatar pendidikan tinggi, tetapi hidup serba kekurangan. Yang sedikit perlu diluruskan di sini adalah bagaimana memanfaatkan pendidikan tinggi yang dimiliki untuk bekerja atau memilih pekerjaan sesuai dengan minat dan memberikan penghasilan memadai.

4. Dengan memiliki uang lebih banyak, kesempatan menabung akan lebih besar

Anggapan ini salah besar karena pada dasarnya kegiatan menabung tidak bergantung pada besarnya pendapatan, melainkan lebih pada kemauan kita untuk memulai kebiasaan menabung ini. Asal kemauan kita kuat, kita bisa memulainya dengan menyisihkan uang kita untuk menabung, dengan besaran mulai dari 1% dari pendapatan. Besarnya persenan ini bisa meningkat perlahan-lahan.