@ ACCURATE HEALTH CENTER (KONSULTASI PSIKOLOGI & AKUPUNKTUR & REFLEKSIOLOGI)
Rabu, 04 Juli 2012
Letakkan Semua Telur dalam Satu Keranjang
Carnegie adalah imigran Skotlandia yang datang ke AS ketika usianya 13 tahun. Setelah tiba di AS ia bekerja di sebuah pabrik pembuatan benang di Pennsylvania. Tahun berikutnya ia pindah kerja sebagai pengantar telegram. Namun karena ingin meraih masa depan lebih baik ia pindah posisi menjadi operator telegram. Di sana ia banyak belajar. Tak lama ia pindah ke perusahaan kereta api di Pennsylvania dan menjadi asisten seorang top eksekutifnya bernama Thomas Scott. Dari Scott inilah ia belajar industri kereta api dan sekaligus belajar bisnis. Tiga tahun kemudian ia dipromosikan menjadi pengawas perjalanan kereta.
Sambil bekerja ia mencoba investasi. Scottlah yang mengajarkannya. Carnegie menanamkan modal US$500 di perusahaan ekspedisi yang di antaranya melayani pengantaran telegram. Setelah itu ia investasi juga di beberapa perusahaan lain meski dengan jumlah saham kecil seperti di perusahaan mobil dan bahkan kereta api. Lama-lama investasinya terus meningkat. Sampai pada tahun 1864 ia sudah bisa menginvestasikan US$ 400.000 untuk membangun ladang minyak. Dari sinilah bisnisnya mulai tampak dan makin lama makin besar, sampai-sampai ia harus keluar dari perusahaan kereta api agar bisa konsentrasi mengurus bisnisnya.
Setelah konsentrasi di bisnisnya, usahanya makin maju. Ia pun berkembang menjadi pengusaha sukses dan pernah dinobatkan menjadi salah satu orang terkaya di dunia. Apa rahasia suksesnya? Di antaranya ia menyebutkan fokus atau konsentrasi. "Konsentrasi adalah moto saya. Pertama kejujuran, kemudian industri, setelah itu konsentrasi," katanya. Ia memang dikenal sebagai seorang industrialis sejati dengan industri bajanya yang luar biasa. Tetapi ia punya nasihat lain. "Orang sukses adalah orang yang telah memilih satu jalan, dan terus fokus pada jalan itu," katanya. Itu berarti konsentrasi.
Tentang konsentrasi ini pula ia dikenal dengan ungkapannya yang berikut. "Konsentrasikan energimu, pikiranmu, dan modalmu," katanya. "Orang bijak meletakkan semua telurnya dalam satu keranjang dan ia mengawasi keranjang itu," jelasnya.
Jadi betapa pentingnya fokus atau konsentrasi. Dan dengan cara itu ia bisa melipatgandakan pendapatannya. Bayangkan, ketika ia mulai bekerja gajinya cuma US$ 1,2 per minggu. Dan beberapa tahun kemudian ia menjadi orang terkaya di dunia yang hanya bisa dikalahkan oleh John D. Rockefeller.
Ketika ia meninggal tahun 1919 hartanya disumbangkan untuk mendirikan berbagai perpustakaan, sekolah, dan universitas di Amerika, Inggris dan negara-negara lain. Karena itu ia dikenal juga sebagai dermawan sejati.
Rabu, 30 Mei 2012
Sopir Angkot yang Berjiwa Besar
Suatu hari saya dan istri memutuskan pergi ke suatu tempat dengan naik bajaj. Saat menghentikan satu bajaj yang lewat di pinggir jalan, saya tak menyangka angkutan ini akan berbeda.
Saat kami sudah di dalam bajaj, mata saya tertuju pada setumpuk majalah (yang terbungkus di dalam plastik) di belakang kursi pengemudi. Ketika memandang ke depan, terlihat ada sebuah televisi kecil. Kami pun saling berpandangan keheranan dan sekaligus takjub. Di depan saya ada kotak P3K yang berisikan kapas, detol, dan beberapa obat lainnya.
Semua itu sudah cukup untuk menyimpulkan bahwa saya sedang berada di dalam angkutan umum yang spesial.
Lalu, saya memutar pandangan sekali lagi, dan ternyata masih ada barang-barang lain yang sepertinya jarang ada di dalam angkutan umum-radio, alat pemadam api, jam dinding, kalender, dan gambar serta simbol banyak kepercayaan (dari Islam, Kristen, sampai Buddha, Hindu, dan Sikh).
Saat saya mengajak si pengemudinya mengobrol sebentar, saya baru sadar kalau tidak hanya bajajnya yang spesial, pengemudinya pun sama-sama spesial. Ternyata dia sudah menjadi sopir bajaj selama 8-9 tahun. Dulu dia pernah bekerja di perusahaan plastik, tapi karena bangkrut terpaksa dia mencari pekerjaan lain dan sejak itu dia pun menggeluti pekerjaannya sekarang.
Dia punya dua anak yang masih bersekolah, dan jam kerjanya dimulai dari jam 8 pagi sampai malam sekitar jam 10. Jadwal kerjanya itu tak pernah dilanggarnya kecuali badannya tidak fit.
Saya bertanya apakah dia melakukan pekerjaan lain. Jawabnya, dia pergi ke rumah panti wreda khusus untuk wanita di Anheri seminggu sekali atau kapan pun dia punya uang lebih. Dia akan menyumbang sikat gigi, odol, sabun, shampoo, dan barang kebutuhan sehari-hari lainnya.
Lalu, dia menunjuk ke tulisan yang tertera di bagian belakang kursinya, "Diskon 25% untuk orang cacat." Sedangkan potongan untuk penumpang yang buta lebih besar lagi. Saya dan istri saya benar-benar takjub.
Kamis, 26 April 2012
Zhai Meiqing—Perempuan Tahan Banting dari Guangzhou
Zhai, 20 tahun lalu bukanlah siapa-siapa. Mungkin tak banyak juga yang memperhatikannya. Namun kini ia masuk ke deretan 400 orang terkaya di China. Modal suksesnya adalah mimpi jadi pengusaha yang ia tanamkan sejak anak-anak.
Ketika ditanya wartawan, apa motivasinya menjadi pengusaha, perempuan cantik ini memberi alasan yang menarik. "Kami miskin pada saat itu dan berharap akan menjalani hidup lebih baik di kemudian hari," katanya seperti dikutip China Daily. Menurutnya, ia selalu punya keinginan untuk melakukan segala sesuatu dengan baik. Dan karena merasa yakin mampu menjalaninya maka ia pun yakin jika terjun ke dunia bisnis akan sukses.
Keyakinan itu terus jadi pegangan hidupnya. Zhai lahir pada bulan April 1964 di Guangzhou, Guangdong, China bagian selatan. Usai menamatkan SMA-nya, ia langsung melamar kerja di China Travel Service yang kemudian diterima dan ditempatkan di kota kelahirannya. Tetapi karena sejak kecil ingin berbisnis sendiri, ia hanya beberapa tahun menjadi karyawan. Pada tahun 1985, saat usianya 21 tahun, ia memutuskan berhenti bekerja. Saat itu ia tergoda untuk mencoba berbisnis garmen dengan meminjam uang dari ibunya sebesar 2.000 yuan. Sayang, bisnis pertamanya itu amblas.
Bisnis pertama boleh gagal, tetapi ia masih memiliki semangat untuk memulai usaha yang lain. Selama dua tahun berikutnya, ia menjadi tenaga pemasar produk mebel milik orang lain. Karena melihat peluang besar di bidang ini, ia kemudian mencoba berbisnis sendiri. Modalnya berasal dari hasil kerjanya selama dua tahun itu yang totalnya sekitar satu juta yuan. Dengan uang sebanyak itulah, ia memulai memproduksi kasur dimulai dari jumlah yang tak seberapa.
Kejelian Zhai dalam memilih produk kasur dan ditambah dengan tidak begitu banyaknya pesaing pada produk kasur, membuat bisnisnya cepat berkembang. Sehingga dalam usia yang masih 22 tahun, ia sudah memiliki penghasilan yang lumayan besar. Bersama pria pujaan yang akhirnya dinikahinya, yaitu Liu Zhiqiang, Zhai Meiqing mengelola bisnisnya. Zhai punya konsep lain. Orang-orang di China pada umumnya saat itu menggunakan tempat tidur yang mereka buat sendiri. Namun karena perkembangan ekonomi yang terus meningkat, kaum profesional yang tumbuh dengan pesat mulai membutuhkan kenyamanan seperti tempat tidur yang lebih nyaman. Kesempatan inilah yang diambil Zhai dan suaminya.
Ia berjualan kasur untuk kalangan profesional di suburban yang baru menikmati kemajuan ekonomi. Harga yang ditawarkan pun murah. Sehingga konsepnya adalah menjual kasur dan produk furnitur sejenisnya untuk kalangan kelas menengah di pinggiran kota dengan harga murah. Tak heran perkembangannya cepat. Dan dalam tempo yang tidak terlalu lama sudah membuka beberapa cabang di provinsi Guangdong.
Karena bisnis furniturnya berkembang pesat, Zhai dan suami kemudian melakukan ekspansi. Ia mencoba memasuki bisnis properti. Kini Zhai dan suami mengendalikan dua grup perusahaan, yaitu Heung Kong Group dan Kinhom Group. Heung Kong fokus di bisnis real estat, sedangkan Kinhom di bidang furnitur. Kinhom kini memiliki 200-an outlet di seluruh China.
Meskipun sudah sangat sukses dan kaya raya, Zhia dan keluarganya memilih jalan menjadi philantropist, yaitu kaum hartawan yang berbagi kekayaannya bagi kemanusiaan. "Ketika saya memulai berbisnis, saya ingin keluar dari kemiskinan. Tetapi kemudian menemukan bahwa nilai-nilai kehidupan yang kita peroleh ternyata terletak pada bagaimana kita berkontribusi pada lingkungan sosial kita," ujarnya.
Dengan dasar itulah, kini ia aktif di yayasan yang dikelolanya untuk membantu sesama.
Senin, 23 April 2012
Chen Shu-chu: Pahlawan Kedermawaan
Chen bukanlah pejabat penting di Taiwan atau tokoh berpengaruh di negeri itu. Ia hanya seorang perempuan yang menginjak usia 60-an tahun dan profesinya sebagai penjual sayuran. Majalah Forbes mengukuhkannya menjadi salah satu dari "48 Heroes of Philanthropy" / Pahlawan Kedermawanan 2010. Sementara majalah TIME memilihnya menjadi bagian dari "The 100 Most Influential People in The World" pada tahun yang sama.
Kisahnya memang inspiratif. Chen bekerja di suatu pasar di Taitung, Taiwan. Ia mengelola sebuah lapak sederhana untuk berjualan sayuran. Penghasilannya sebenarnya relatif sama dengan penjual sayuran lain yang berjualan di pasar itu. Tetapi yang membedakannya adalah ia mampu menyisihkan penghasilannya hingga NT$10 juta atau US$321.550 (sekitar Rp2,9 miliar) dalam kurun waktu 20-an tahun yang ia sumbangkan ke berbagai pihak seperti sekolah, panti asuhan, anak-anak miskin, dan sebagainya. Bagaimana ia mengumpulkan uang sebanyak itu? Bisa dikatakan pengalaman hidup dia sendirilah yang memampukannya berbuat demikian.
Chen Shu-chu kehilangan ibu dan adik bungsunya karena keluarganya tak punya cukup biaya untuk menolong mereka. Ketika ayahnya berhasil meminjam uang dari sana-sini untuk biaya perawatan sang ibunda, usaha ini sudah terlambat karena ibunya lebih dulu meninggal. Hal ini pun terulang kembali pada adik bungsunya. Sejak itu ia bertekad untuk berhemat demi mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Ia makan sesuai kebutuhannya, tak perlu berlebihan. Ia berpakaian sederhana. Tak perlu pula berfoya-foya. Dengan berhemat, ia bisa menabung.
Setelah ayahnya meninggal di awal tahun 1990-an, Chen Shu-chu terinspirasi untuk menyumbangkan tabungannya agar bisa membantu orang lain. Ia menyadari, di luar sana banyak orang yang mengalami nasib seperti dirinya, sulit mendapat akses ke rumah sakit atau mendapat pengobatan yang memadai, karena miskin. Ia pun menyumbang ke biara Fo Guang Shan sebesar NT$1 juta (US$32.155 atau sekitar Rp289 juta). Uang sebesar itu merupakan akumulasi dari tabungannya bertahun-tahun.
Pada tahun 2000, ia kembali menyumbang yang kali ini ke Ren-ai Primary School, sekolah dasar tempat dulu ia sekolah, sebesar NT$1 juta. Dana itu diberikan untuk membantu anak-anak yang tidak mampu mengembangkan pendidikan dan sebagainya.
Banyak orang yang heran bagaimana caranya Chen menabung hingga bisa memiliki tabungan sebanyak itu padahal ia hanya berjualan sayuran. "Belanjakan uang hanya untuk sesuatu yang benar-benar kita butuhkan, pasti bisa menabung uang yang banyak," kata Chen. Untuk melakukan itu, setiap malam Chen memindahkan uang recehan kembalian ke tiga dus kecil untuk ditabung. Dan ia terus melakukan hal itu. "Setiap orang pasti bisa melakukannya karena sangat mudah," katanya.
Ditambah dengan sikap hidup hematnya, maka tabungannya cepat bertambah banyak. Tentu bukan hanya uang recehan itu tabungannya. Hidup hemat Chen memang luar biasa. Selain makan secukupnya, berpakaian sederhana, ia pun tinggal di tempat sederhana. Ia terbiasa tidur di lantai sejak ia mulai berjualan sayur di pasar. Katanya, dengan cara begitu ia akan cepat bangun dan pergi ke pasar jika kesiangan. "Saya mencintai pekerjaan ini," katanya.
Meski sudah berjasa besar bagi orang lain, Chen Shu-chu menolak disebut kedermawanannya itu sangat luar biasa. "Ini bukan pekerjaan yang luar biasa. Tentu banyak orang lain di luar sana yang punya keinginan untuk menyumbang. Akan tetapi karena berbagai hal, mereka tak bisa melakukannya. Selain itu, pasti banyak juga yang sudah menyumbang cuma kita tak tahu saja," katanya. Ia juga menyebutkan, "Ketika saya menyumbang untuk membantu orang lain, ada perasaan damai dan bahagia di hati saya, saya pun jadi bisa tidur nyenyak," ujarnya. Luar biasa sekali!
Kamis, 10 November 2011
Hidup Melarat, Kakek Ini Dermawan Sejati
Sungguh mulia lelaki tua veteran perang di Taiwan ini. Dia rela hidup melarat, makan dan berpakaian seadanya, bahkan tidak memedulikan kesehatannya, demi menabung untuk disumbangkan ke fakir miskin. Adalah Hong Zhong Hai, kakek 82 tahun yang pernah berlaga di perang saudara China, ditahbiskan masuk ke dalam jajaran 46 orang paling dermawan se-Asia Tenggara versi majalah Forbes. Bukannya tidak beralasan, kendati renta, dia rela berkorban demi kepentingan orang banyak.
Tahun lalu, kakek kelahiran Anhui Huoqiu, China, ini menyumbangkan tabungannya sebesar NT$6 juta atau sekitar Rp. 1,78 miliar pada mereka yang membutuhkan. Ia juga sering membantu menyokong hidup janda kawan-kawannya di medan perang.
Menurut kisah yang diungkapkan Peter Wey, seorang diplomat Taiwan di Jakarta, 7 Juli 2011, Hong tidak pernah merasa cukup menyumbang. Dia berpikir bahwa uang yang sudah dikeluarkannya itu masih belum cukup besar. “Saya ingin hidup lebih lama lagi, sehingga saya bisa memberi lebih,” kata Hong.
Keadaan Hong saat ini telah payah. Dia berjalan menggunakan skuter listrik sejak jatuh dari sepeda pada 2006 dan mengalami cedera tulang belakang pada 2011. Ia juga menderita penyakit pikun atau demensia dan mengalami kesulitan bicara. Namun, jika bicara soal sumbangan, dia bisa menjelaskan panjang lebar.
“Hidup saya sangat sederhana. Saya menghemat untuk diri sendiri, namun bersedia menyumbang.” Kata Hong.
Hong ikut wajib militer menggantikan sang kakak tahun 1945, saat usianya baru 16 tahun dan baru enam bulan menikah. Ia pun terjun dalam perang saudara, perang bom tahun 1958, dan sederet perang lainnya.
Saat pulang kampung untuk pertama kalinya pada 1987, Hong mendapati istrinya telah menikah dengan orang lain. Sejak itu ia tidak menikah lagi dan memilih untuk hidup sendiri. Hong telah pensiun dari dunia militer dan tinggal sendiri di kota Hualien, Taiwan Timur, terpisah dari saudara-saudara kandungnya.
Kehidupannya yang sederhana di rumah ini mencengangkan seorang perawat yang berkunjung ke rumahnya. “Saya melihat handuk yang sudah robek seperti sarang laba-laba, tetapi dia tidak ingin menggantinya. Ada pula sayur kubis yang dimasukan kedalam penanak nasi listrik sampai lunak, bersama ikan kalengan dan roti kukus dimakannya yang selama seminggu. Usai makan ia hanya mengonsumsi empat butir anggur.” ujar si perawat.
Perawat tersebut mengatakan biaya hidup Hong setiap bulan ternyata kurang dari NT$ 1000 (sekitar Rp. 297.000). Sebagian besar uang tunjangan pensiun Hong ditabung untk disumbangkan di kemudian hari.
Pernah ada seorang ibu dan anak yang pernah menerima bantuan Hong, datang dari dusun Xiulin membawa sup ikan untuk Hong sebagai bentuk terima kasih. Ketika menyuapkan sesendok sup kemulutnya, dengan terharu Hong berkata, “Sup ini adalah makanan paling lezat yang pernah saya cicipi.”
Hong menyatakan masih ingin menyumbangkan uangnya untuk membantu lebih banyak orang, namun pihak rumah sakit menyarankan Hong agar menggunakannya untuk kepentingan medisnya.
“Hong Zhong Hai masih membutuhkan perawatan, menyewa perawat sehingga kami menyarankan untuk sementara menyimpan uangnya. Ia sendiri susah berjalan, tetapi tidak bersedia membeli kursi roda listrik,” ujar pihak rumah sakit.

