Laman

Senin, 23 April 2012

Chen Shu-chu: Pahlawan Kedermawaan

Sekali lagi, menyumbang bukan urusan orang kaya saja. Orang sederhana pun bisa melakukannya. Bahkan, dengan bentuk kepedulian pada orang lain yang begitu tinggi, seorang tukang sayur pun bisa menyumbang miliaran rupiah.
 
Chen bukanlah pejabat penting di Taiwan atau tokoh berpengaruh di negeri itu. Ia hanya seorang perempuan yang menginjak usia 60-an tahun dan profesinya sebagai penjual sayuran. Majalah Forbes mengukuhkannya menjadi salah satu dari "48 Heroes of Philanthropy" / Pahlawan Kedermawanan 2010. Sementara majalah TIME memilihnya menjadi bagian dari "The 100 Most Influential People in The World" pada tahun yang sama.

Kisahnya memang inspiratif. Chen bekerja di suatu pasar di Taitung, Taiwan. Ia mengelola sebuah lapak sederhana untuk berjualan sayuran. Penghasilannya sebenarnya relatif sama dengan penjual sayuran lain yang berjualan di pasar itu. Tetapi yang membedakannya adalah ia mampu menyisihkan penghasilannya hingga NT$10 juta atau US$321.550 (sekitar Rp2,9 miliar) dalam kurun waktu 20-an tahun yang ia sumbangkan ke berbagai pihak seperti sekolah, panti asuhan, anak-anak miskin, dan sebagainya. Bagaimana ia mengumpulkan uang sebanyak itu? Bisa dikatakan pengalaman hidup dia sendirilah yang memampukannya berbuat demikian.

Chen Shu-chu kehilangan ibu dan adik bungsunya karena keluarganya tak punya cukup biaya untuk menolong mereka. Ketika ayahnya berhasil meminjam uang dari sana-sini untuk biaya perawatan sang ibunda, usaha ini sudah terlambat karena ibunya lebih dulu meninggal. Hal ini pun terulang kembali pada adik bungsunya. Sejak itu ia bertekad untuk berhemat demi mengumpulkan uang untuk berjaga-jaga. Ia makan sesuai kebutuhannya, tak perlu berlebihan. Ia berpakaian sederhana. Tak perlu pula berfoya-foya. Dengan berhemat, ia bisa menabung.

Setelah ayahnya meninggal di awal tahun 1990-an, Chen Shu-chu terinspirasi untuk menyumbangkan tabungannya agar bisa membantu orang lain. Ia menyadari, di luar sana banyak orang yang mengalami nasib seperti dirinya, sulit mendapat akses ke rumah sakit atau mendapat pengobatan yang memadai, karena miskin. Ia pun menyumbang ke biara Fo Guang Shan sebesar NT$1 juta (US$32.155 atau sekitar Rp289 juta). Uang sebesar itu merupakan akumulasi dari tabungannya bertahun-tahun.

Pada tahun 2000, ia kembali menyumbang yang kali ini ke Ren-ai Primary School, sekolah dasar tempat dulu ia sekolah, sebesar NT$1 juta. Dana itu diberikan untuk membantu anak-anak yang tidak mampu mengembangkan pendidikan dan sebagainya.

Banyak orang yang heran bagaimana caranya Chen menabung hingga bisa memiliki tabungan sebanyak itu padahal ia hanya berjualan sayuran. "Belanjakan uang hanya untuk sesuatu yang benar-benar kita butuhkan, pasti bisa menabung uang yang banyak," kata Chen. Untuk melakukan itu, setiap malam Chen memindahkan uang recehan kembalian ke tiga dus kecil untuk ditabung. Dan ia terus melakukan hal itu. "Setiap orang pasti bisa melakukannya karena sangat mudah," katanya.

Ditambah dengan sikap hidup hematnya, maka tabungannya cepat bertambah banyak. Tentu bukan hanya uang recehan itu tabungannya. Hidup hemat Chen memang luar biasa. Selain makan secukupnya, berpakaian sederhana, ia pun tinggal di tempat sederhana. Ia terbiasa tidur di lantai sejak ia mulai berjualan sayur di pasar. Katanya, dengan cara begitu ia akan cepat bangun dan pergi ke pasar jika kesiangan. "Saya mencintai pekerjaan ini," katanya.

Meski sudah berjasa besar bagi orang lain, Chen Shu-chu menolak disebut kedermawanannya itu sangat luar biasa. "Ini bukan pekerjaan yang luar biasa. Tentu banyak orang lain di luar sana yang punya keinginan untuk menyumbang. Akan tetapi karena berbagai hal, mereka tak bisa melakukannya. Selain itu, pasti banyak juga yang sudah menyumbang cuma kita tak tahu saja," katanya. Ia juga menyebutkan, "Ketika saya menyumbang untuk membantu orang lain, ada perasaan damai dan bahagia di hati saya, saya pun jadi bisa tidur nyenyak," ujarnya. Luar biasa sekali!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar