Laman

Senin, 23 April 2012

I CAN is 100 Times More Important Than IQ

Saya sangat tertarik dengan sebuah tulisan dari David Vogelsang yang mengutip kembali sebuah semboyan:

"I CAN is 100 times more important than IQ!"

WOW!!

Saya sangat menikmati kutipan tersebut dan sama sekali tidak sedang berusaha untuk mengembangkan pemaknaan dari semboyan itu untuk menjadi sebuah euforia. Cukup kalau saya artikan secara sederhana saja menjadi:

"SANGGUP itu lebih penting dari CERDAS".

Apa benar seperti itu?

Pemaknaan kebenarannya jangan diartikan secara biasa-biasa saja, tetapi harus menjadi bahan renungan yang sanggup mengusik dan menggelitik rasa "heroik namun tulus hati" dalam mengemban sebuah tanggung jawab.
Banyak sekali perusahaan pada masa ini mulai mengembangkan cara-cara perekrutan karyawan dari melalui TES IQ saja menjadi lebih luas lagi lingkupnya dengan melakukan juga tes EQ, tes SQ, dan tes HRQ. Mungkin dasar pemikiran terdalam dari semboyan di atas berasal dari HRQ (Human Relationship Quotient = kecerdasan untuk memahami orang lain / Skill with People).

Walaupun David Vogelsang ini berasal dari "Barat" di mana manajemen dengan kultur barat ini lebih terfokus pada prestasi dan kecakapan individu, lebih menjadikan kaum profesional di belahan dunia Barat menjadi seorang spesialis yang opportunis (selalu sigap pada keahlian yang terspesialisasi pada satu bidang dan lebih tertarik pada kesempatan pengembangan karir yang lebih baik), toh beliau tertarik juga dengan pemikiran di atas yang kalau kita gali lebih dalam maknanya sangat kental manajemen dengan kultur ketimuran.

Dalam manajemen dengan kultur Timur, memang benar, bahwa sebuah organisasi tidak terlalu mempertimbangkan kecakapan individu... selama orang itu bisa memainkan peranannya dengan baik dalam team-worknya di segala lini (bukan terpusat pada sebuah lini seperti yang dianut manajemen budaya Barat) - maka dari itu jangan heran kalau seorang Senior Director di perusahaan Jepang bisa tidak memerlukan sekretaris pribadi, melakukan penjualan dan kunjungan ke pelanggan sendiri, melakukan pengiriman sample produk sendiri, mengetik surat penawaran harga bahkan sesekali ikut-ikutan sibuk di bagian lini produksi dengan senang hati juga dilakukannya.

Budaya I CAN, seharusnya lebih dihargai oleh penganut manajemen Timur. Tetapi karena orang Timur tidak terfokus pada spesialisasi, maka kalau ada seorang eksekutif mau "turun" bersama dengan salesmannya berkeliling kesana kemari atau sesekali ikut-ikutan mengemudikan "forklift" di lini produksi.. semuanya dianggap biasa saja.

Sebaliknya budaya I CAN pada saat ini sedang mendapat perhatian besar para penganut manajemen Barat yang tadinya serba spesialis, mereka mulai menghargai para CEO dan level managernya yang mau terjun langsung ke lapangan .. ini bisa Anda lihat dari gaya kepemimpinan CEO Barat yang sudah mempelajari banyak manajemen Timur seperti Steve Jobs, Bill Gates atau Warren Buffet yang kemana-mana masih sering mengemudikan mobilnya sendiri tanpa sopir.

Itulah menariknya mempelajari "manajemen multi kultural": memperkaya wahana kreativitas kita dalam mengembangkan diri serta membebaskan pikiran dari belenggu dikotomi Barat dan Timur yang rasanya jadi tampak kurang relevan lagi pada era globalisasi ini.

Business Warriors yang perkasa ...

Yes! See that I CAN before seeing my IQ!!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar