Laman

Selasa, 03 April 2012

Sebuah Renungan Tentang Papa

Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja di perantauan, yang ikut suaminya merantau d luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orangtuanya...akan sering merasa kangen sekali dengan mamanya. Lalu, bagaimana dengan papa?

Mungkin mama memang lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari! Tapi tahukah kamu, jika ternyata papa-lah yang mengingatkan mama untuk selalu meneloponmu?

Pada saat kamu masih kecil, papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. Dan setelah menganggapmu bisa, papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu. Tapi mama bilang, "Jangan dulu Papa, jangan dilepas dulu roda bantunya!" Sebab, mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. Tapi sadarkah kamu, bahwa Papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan saksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA.

Pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, mama menatapmu iba. Tetapi, papa akan mengatakan dengan tegas, "Boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang!" Tahukah kamu, papa melakukan itu karena ia tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang harus selalu dapat dipenuhi?


Ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut pada papa untuk dapat izin keluar malam, dan papa bersikap tegas sambil mengatakan, "Tidak boleh!" Tahukah kamu, bahwa papa melakukan itu untuk menjagamu? Karena bagi papa, kamu adalah orang yang sangat luar biasa berharga.

Setelah itu kamu marah pada papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. Dan yang datang mengetuk pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah mama. Tahukah kamu, bahwa saat itu papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya? Sebenarnya papa sangat ingin mengikuti keinginanmu. Tapi, lagi-lagi dia HARUS menjagamu.

Setelah lulus SMA, papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter atau insinyur. Ketahuilah bahwa seluruh paksaan yang dilakukan papa itu semata-mata hanya karena ia memikirkan masa depanmu nanti. Tapi toh, papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginannya!

Ketika kamu menjadi gadis dewasa dan harus pergi kuliah di kota lain, papa harus melepasmu di bandara. Tahukah kamu bahwa badan papa terasa kaku untuk memelukmu? Papa hanya tersenyum sambil memberi nasihat ini dan itu, sekaligus menyuruhmu untuk berhati-hati. Padahal papa ingin sekali menangis seperti mama dan memelukmu erat-erat.

Yang papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu sambil berkata, "Jaga dirimu baik-baik, ya, sayang." Papa melakukan itu semua agar kamu KUAT... kuat untuk pergi dan menjadi dewasa!

Saat kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang.

Saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada papa untuk mengambilmu darinya, papa akan sangat berhati-hati memberikan izin karena papa tahu bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti. Dan akhirnya.... Saat papa melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seorang lelaki yang dianggapnya pantas menggantikannya, papa pun tersenyum bangga. Apakah kamu tahu, di hari yang bahagia itu, papa pergi ke belakang panggung sebentar dan menangis? Papa menangis karena ia sangat berbahagia. Kemudian papa berdoa, "Ya Allah, tugasku telah selesai dengan baik. Putri kecilku yang lucu telah menjadi wanita yang cantik. Bahagiakanlah ia bersama suaminya..."

Setelah itu, papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. Dengan rambut yang telah dan semakin memutih, serta badan dan lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. Papa telah menyelesaikan tugasnya...!

Papa, Ayah, Bapak, atau Abah kita adalah sosok yang harus selalu terlihat kuat. Bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis, dia harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. Dan dia adalah orang pertama yang selalu yakin bahwa "KAMU BISA" dalam segala hal! Oleh karena itu, sama seperti mama atau ibu, kasihi/perhatikan/hargailah dia. Nyatakan atau lakukan pada hari ini juga, mumpung masih ada waktu!

Bagi kita sendiri, yang telah menjadi seorang papa atau ayah, mari menjadi papa/ayah yang LUAR BIASA bagi putra/putri kita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar