Laman

Senin, 23 April 2012

Perjuangan Berat Anak Sekolah di China

Di masa sekolah kita dulu, atau mungkin bagi mereka yang sekarang ini masih menjalani masa-masa sekolah, mungkin tak terhitung keluhan yang dilontarkan soal perjalanan dari rumah ke sekolah. Yang jauhlah, yang harus bangun pagi-pagilah padahal masih mengantuk, dan yang-yang lainnya. Tapi jika kita membaca kisah perjuangan anak-anak di China untuk menimba ilmu, sudah sepatutnya kita merasa malu pada diri sendiri dan terlebih pada anak-anak ini.

Terlambat masuk sekolah mungkin merupakan kebiasaan yang dapat dimaklumi dari anak-anak ini. Betapa tidak, mereka harus menyeberangi sebuah lembah yang sangat luas dengan menggunakan kereta kabel buatan warga untuk sampai ke sekolah mereka.

Anak-anak ini tinggal di desa Decun di Provinsi Guizhou, China bagian barat daya, dan mereka bersedia mengambil risiko setiap hari hanya demi menimba ilmu. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata kendaraan yang penuh bahaya ini merupakan sebuah kemajuan bagi anak-anak tersebut. Karena sebelumnya mereka harus berjalan kaki yang memakan waktu sekitar 5 jam. Keadaan ini baru berubah pada tahun 2002 ketika seorang warga setempat bernama Hui Defang, membangun sebuah jalur lintas kabel yang simpel.

"Sangat jauh perjalanan yang ditempuh anak-anak setiap hari untuk pergi ke dan pulang dari sekolah. Karena memikirkan anak-anak saya dan mengingat usia mereka yang sudah memasuki usia anak sekolah, saya putuskan untuk membangun sebuah kereta kabel bagi anak-anak." Demikian kata Hui. "Jalur ini juga bisa menjadi alternatif yang lebih nyaman bagi sekitar 100 anak-anak di desa untuk menuju ke sekolah," lanjut Hui.

Hui dan 20 warga desa lainnya bekerja sukarela selama satu bulan untuk membangun sistem transportasi ini. Sekarang jalur kabel tersebut menjadi satu-satunya titik akses ke dunia luar bagi sebanyak 2.000 warga desa yang tinggal di Decun. Bagi siswa yang ingin menggunakan alat transportasi ini untuk sekali menyeberang, harus membayar sebesar 1 yuan. Sedangkan, untuk orang dewasa dikenakan biaya 2 yuan per sekali seberang.

Salah seorang siswa perempuan sempat menceritakan perasaannya saat memakai transportasi ini, "Setiap kali naik kereta kabel ini, jantungku berdebar lebih keras."

Luar biasa sekali perjuangan anak-anak China tersebut, bukan? Mulai sekarang, jika perasaan malas untuk melakukan sesuatu (seperti bersekolah, bekerja, atau hal lainnya) menghampiri kita, cobalah mengingat kisah anak-anak ini yang rela mengambil risiko besar demi kesempatan meraih pendidikan.

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar