Laman

Kamis, 03 Februari 2011

Hachiko, Anjing yang Setia


Hachiko, Anjing yang Setia

Jika anda mengunjungi Shibuya, pusat perbelanjaan terpadat di Tokyo, Anda mungkin akan menjumpai sebuah patung anjing di salah satu pintu keluar stasiun. Patung ini didirikan untuk mengenang Hachiko, anjing ras akita yang sangat terkenal akan kesetiaannya.


Tahun 1923. Pada musim dingin yang menggigit, di antara hamparan salju di Prefektur Akita, seekor anak anjing ditinggalkan oleh pemiliknya. Profesor Hidesaburo Ueno yang menemukan anak anjing ini merasa iba dan membawanya pulang. Anak anjing yang imut dan lucu ini benar-benar menggemaskan dan membawakan kegembiraan hati bagai Profesor Ueno. Setiap hari Profesor selalu berbagi makanan dengannya, memandikannya, dan merawatnya. Profesor memebrikan nama “Hachiko” kepada anak anjing ini.


Hachiko pun sangat menyukai Profesor. Pada tahun 1924, Hachiko dibawa ke Tokyo oleh Profesor Ueno yang mengajar jurusan pertanian di Universitas Tokyo. Setiap hari Profesor berangkat ke kampus menggunakan densha (kereta api) dari Stasiun Shibuya. Setiap hari pula Hachiko selalu menemani Profesor berangkat ke Stasiun Shibuya. Setelah Profesor berangkat, Hachiko pun akan pulang ke rumah dengan sendirinya, kemudian sore harinya, datang lagi ke Stasiun Shibuya untuk menunggu kepulangan Profesor. Setiap kali Profesor turun dari densha, Hachiko pun terlihat telah menunggunya. Hachiko dan Profesor kemudian akan pulang bersama-sama.

Demikianlah hari demi hari Hachiko selalu mengantarkan dan menemani Profesor Ueno.


Suatu hari, Profesor merasa kurang sehat. Walaupun demikian, Profesor tetap berangkat mengajar seperti biasanya. Hachiko pun, seperti biasanya, menemani Profesor berangkat ke stasiun Shibuya. Ketika sedang mengajar, Profesor tiba-tiba limbung dan terjatuh. Profesor Ueno mengalami serangan stroke. Murid-murid dan staf kampus yang kaget, segera membawa Profesor ke rumah sakit, Akan tetapi, nyama professor tak tertolong lagi.


Hachiko, sore harinya, seperti biasa berangkat lagi dari rumah ke Stasiun Shibuya untuk menunggu kepulangan tuannya. Akan tetapi, kali ini, di antara kerumunan orang-orang yang turun dari densha, tidak ada sang Profesor. Hachiko terus menunggu dan menunggu, berharap sosok sang Profesor akan menghampirin, dan bersama-sama pulang ke rumah.


Siang tergantikan malam. Akan tetapi, tuan yang ditunggu-tunggu tak kunjung dating. Hachiko pun pulang sendirian.


Keesokan harinya, Hachiko datang lagi ke Stasiun Shibuya, menunggu kepulangan sang Profesor. Akan tetapi, lagi-lagi professor yang dinanti-nantinya tak kunjung tiba.


Esok harinya, Hachiko datang lagi ke stasiun dan menunggu. Esoknya lagi.. dan esoknya lagi. Tak peduli hamparan salju yang membeku pada musim dingin, maupun udara musim panas yang lembab dan gerah, setiap harinya Hachiko pasti selalu datang menunggu.


Para penumpang yang mengetahui bahwa Hachiko sedang menunggu tuannya yang tak akan pernah kembali lagi, merasa simpati dan mencoba memberitahunya, “Hachiko, tuanmu tidak akan kembali lagi, tidak perlu menunggu lagi.”


Akan tetapi, Hachiko tetap menunggu. Tanpa pernah absent sehari pun, selama hamper 11 tahun, Hachiko tetap menunggu…


Suatu pagi, seorang petugas stasiun menemukan tubuh seekor anjing yang sudah kaku meringkuk di pojokan jalan, Anjing itu telah menjadi mayat. Hachiko sudah mati. Kesetiaannya kepada tuannya pun ia bawa sampai mati.


Warga yang mendengar kematian Hachiko pun berdatangan ke Stasiun Shibuya. Jika anda mengunjungi Shibuya, Anda akan menemukan patung Hachiko di sisi utara Stasiun Shibuya saat ini.


Sampai saat ini pun, sekitaran patung Hachiko sering dijadikan tempat janji temu oleh orang-orang ataupun pasangan kekasih. Mereka berharap akan ada kesetiaan seperti yanh telah dicontohkan oleh Hachiko saat mereka menunggu maupun berjanji untuk datang..


Oleh orang Jepang, Hachiko dikenang dengan sebutan Chuuken Hachiko, yang artinya “Hachiko, anjing yang setia.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar